Pagi ini aku bloging, ga sengaja nemu tulisan seseorang (aku lupa nama blognya dan penulisnya), menulis tentang rasa penyesalannya tentang suatu hal yang telah dilakukan pada Ayahnya. Aku jadi teringat Bapakku. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Bapak sudah memberiku kehidupan dan ilmu sampai aku bisa menghidupi diri sendiri. Bapak memang hanya manusia biasa, yang ga lepas dari kekurangan. Tapi dibalik semua kekurangannya, Bapak sudah menjadi contoh bagi anak-anaknya. Memang bapak keras, terutama pada aku dan adikku yang dibawahku. Sedang buat adik-adikku yang lain Bapak tidak sekeras dulu saat aku masih kecil.
Kenangan bersama Bapak banyak sekali. Dulu aku pernah ingat punya sepeda roda 3 dan Bapak mendorongku, karena aku belum bisa nginjak pedal sepedanya. Momen itu sampe di foto sama temen bapak, yang juga ibunya temenku
. Bapak juga orang yang dengan rela mencucikan bajuku ketika aku sakit, padahal anaknya ini udah tuek loh
. Bapak ga malu tuh. Dari kecil sampe SMP kelas 2, tiap pagi Bapak lah yang menyisir rambutku (rambutku dulu panjang sebahu lebih). Aku pernah di kuncir kuda, kepang sampe ala Usagi ‘Sailor Moon’ Sukino
. Aku ga suka ala Usagi Sukino, karena aku pasti diledekin temen-temenku. Udah gitu kalo udah siangan dikit udah acak-acakan ga karuan, ditowel-towel sama temenku. Pokoknya males banget bergaya imut ke sekolah. Waktu SD, Bapak yang hanya guru SD ga sanggup beli motor lagi, setelah membangun rumah kami. Jadilah Bapak naik sepeda mini berkeranjang buat mengantarku sekolah. Apalagi, saat itu Ibu sakit keras, biaya pengobatannya yang mahal dan harus bolak-balik masuk rs rekomendasi dokter, Bapak pun merelakan motornya. Saat itu kami sudah ikhlas jika suatu saat Ibu dipanggil Allah. Bapak bahkan bertekad ga nikah lagi demi anak-anaknya. Alhamdulillah….ibu diberikan kesembuhan sampai sekarang bisa sehat menemani anak-anaknya. Kadang aku masih suka nangis kalo ingat masa-masa sulit kami sekeluarga. Ada juga bu guruku, yang juga temen Bapak, sering banget nyindir dan pilih kasih ke aku, karena aku anaknya orang ga punya, ga bakal nyogok dia. Aku bersekolah di sekolah negeri paling baik di kecamatanku. Jadi Bapak dan Ibu bertekad anak-anaknya harus pintar biarpun kami anak Guru SD. Aku berhasil jadi anak rajin, bahkan sampai bisa menjadi juara di berbagai lomba ::smug:: . Adikku jauh lebih pintar dari aku
. Dia tukang tidur aja bisa pinter, apalagi dia doyan melek
.
Bapak juga pernah marah besar padaku. Terutama saat aku pacaran dengan cowo pas jaman sekolah SMA. Bapak ga mau aku pacaran. Sense of Belonging-nya buat anak-anak perempuannya besar sekali. Takut kalah saingan kali yah
. Tapi Bapak juga ga pernah sekalipun menyalahkan aku untuk hidup melajang sampai saat ini. Bahkan jarang Bapak bertanya tentang kapan keinginanku untuk menikah. Saat aku putus cinta Bapak hanya pesan, “kamu harus jaga kesehatan, jaga makanan, jangan stress ya” . Ga pernah sekalipun nanya kenapa aku putus. Padahal aku tau, betapa Bapak kepingin sekali melihatku menikah sebelum beliau pensiun. Tapi Bapak tetep cheerup me. Mungkin Bapak sudah tau versi lengkapnya tentang kisah cintaku dari Ibu. Aku selalu bercerita apapun dengan Ibu.
Bapak orang yang dengan rela berbuat apa saja untuk anak-anaknya. Aku ingat banget perjuangan Bapak mencarikan tiket buat aku dan adikku mudik ke Cepu. Bahkan saat kami sakit atau sedang bingung, Bapak dan Ibu selalu pengen berada di samping anak-anaknya yang ada di rantau. Beberapa bulan yang lalu aku operasi kecil mengambil kutil, dikira bapak dan Ibu aku operasi besar apa gituh. Sampai panik ga nanya dulu, langsung pesen tiket kereta ke Jakarta. Melihat pengorbanan Bapak dan Ibu,kadang aku marah kalo ngelihat adik-adikku ga melihat usaha Bapak untuk bisa menjadi panutan mereka. Sejelek apapun beliau adalah orangtua, yang telah membesarkan kita. Kalau ada sedikit saja kesalahan orangtua kita ke diri anak-anaknya, itu tidak sebanding dengan pengorbanan orangtua membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan baik dan penuh kasih sayang. Sekarang aku sudah mampu memberi sedikit kebahagiaan bagi Bapak. Walopun belum banyak yang aku lakukan. Terutama mencarikan DVD film Laskar Pelangi
. Bapak suka sekali film Laskar Pelangi. Sabar ya pak, minggu depan kalo anakmu ini ga dihajar lembur, aku cari-in DVD film Laskar Pelangi.