.:: life, love and friendship ::.











{August 29, 2008}   Mudik Oh Mudik

Mudik sudah jadi tradisi seluruh masyarakat perantauan Indonesia dimanapun berada. Bahkan sampe orang Indonesia yang di luar negeri, bela-belain pulang dengan tiket yang ga murah demi ketemu keluarga. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia. Di negara lain kayanya ga ada deh :D . Persiapan mudik dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sebelum puasa. Mulai dari beli oleh-oleh, baju lebaran, nuker duit baru buat angpau ke sodara yang kecil, sampe ke acara nyari tiket. Ya begitulah, hal yang terakhir ini sangat menyibukkan sekali, bahkan sampe menguras emosi dan jam tidur loh :| .

Aku mudik ke Cepu, Jawa Tengah. Cepu kota kecil yang kaya minyak & gas bumi, sampe diributin sama negara-negara lain dengan ‘Blok Cepu’-nya. Kereta yang berhenti di Cepu dari Jakarta untuk kelas exe hanya Sembrani dan Gumarang. Ga heran, kalo orang Cepu melakukan apa saja buat dapetin tiket kedua kereta itu. Sebetulnya Cepu juga dilewati bis, tapi ga mau lagi mudik pake bis. Dijamin kusut sampe rumah, puasa batal dan BT coz macet banged. Kalau mau cepet, naik pesawat aja. Tapi usahakan setelah sampe Juanda, udah ada yang jemput atau bareng sodara di Surabaya yang mau pulang kampung. Cepu itu panas, tapi aku rindu nasi pecel dan lontong tahu-nya :D .

Read the rest of this entry »



{August 22, 2008}   A-D-I-L

Orang selalu berbicara tentang keadilan, dimana-mana ngomong KEADILAN. Bahkan bangsa ini punya sila ke-5 yang isinya Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tapi saya belum merasa yakin dengan kata-kata yang di gagas oleh pendiri Indonesia. Ga usah jauh-jauh ke negara, orang tua aja sering ga adil ke anaknya. Di masa kecil aku sering ngalami kok. Padahal itu orang tuaku sendiri, orang yang melahirkan aku. Dulu waktu kecil, pas adik-adikku udah lahir aku sering mendapat tanggung jawab moral lebih di banding adik-adikku. Aku yang hanya anak kecil, pas SMP, temenku main ke rumah, dan aku tetep jadi nanny buat adikku. Padahal aku bukan pengasuh adik-adikku. Saat mulai gede, dikit-dikit aku di marahin, bahkan dengan kesalahan kecil yang ga perlu marah besar. Alasannya aku kan anak sulung, hah…emang aku yang minta jadi anak pertama dengan adik banyak ?!. Yah pokoknya banyak kejadian yang buat aku ’sedikit’ marah dengan orang tuaku, tapi hanya dalam hati, ga pernah bisa ngomong.

Ketidakadilan terus berlangsung di lingkungan kantor. Banyak deh kejadian yang buat aku melongo bingung, ga tau harus apa. Di lingkungan birokrat keadilan tuh nomor sekian, yang penting kedekatan, koneksi, atau subjektifitas pimpinan atau senior yang berkuasa. Sering aku ngelihat orang rakus disini. Ga perduli harus mengambil bagian orang lain, bahkan menyakiti temen sendiri :D . Pernah suatu saat, aku ngerjain tugas berdasarkan perintah bos, beresiko emang. Eh pas bos besar nanya siapa yang nyuruh, aku bilang lah si bosku. Pas bos besar nanya ke bosku, dia ga ngaku. Kurang asyem x-( . Suakiitt buanget rasane atiku di kayak gituin. Udah dia kalo ngomong sekate-kate. Giliran butuh ngejar2 daku. Begitu udah dijalankan perintah beresiko, malah ga ngaku merintah. Udah gitu giliran ada dinas, pembagian tidak merata, sesuai dengan suka ato tidak si bosku ke anak buahnya. Capek deh :-S .

Jadi intinya, di dunia ini, orang yang bisa adil di dunia ini hanya Nabi, Rasulullah, waliyullah sama orang yang benar-benar ma’rifat. Ga mikir masalah duniawi, yang penting lillahita’ala. Jangan percaya sama pimpinan, kadang-kadang mereka malah menjerumuskan. Ga bisa dipercaya, hobi menyelamatkan diri sendiri. Hanya segelintir pimpinan yang mau bertanggung jawab dan berempati sama anak buahnya. Semoga nanti saat aku dipercaya menjadi pimpinan, aku bisa bertanggung jawab dengan posisiku. Bisa mengerti anak buahku, dan insyaAllah berusaha adil…amien.



{August 1, 2008}   Women Under 25 More Than 20

Wanita emang complicated, aku juga menyadari hal itu. Emosi yang turun naik, karena siklus hormon yang kadang amburadul karena stres atau asupan gizi kurang. Apalagi kalo pas PMS ( Pre Menstruation Syndrome), wuih…bawaan pengen muarrah ke semua orang yang nyebelin. Masku aja sering ngeluh kalo aku pas “sisi wanitaku” mengalahkan logikaku. Wanita juga sering mendapatkan tekanan dari lingkungannya. Kalo anak pertama cewek, mesti lebih bertoleransi (ketimbang anak pertama laki-laki) sama keluarganya. Semua masalah keluarga, dia harus terlibat. Kalo udah kuliah, mesti cepet lulus, cepet kerja, habis itu NIKAH. Phew..satu kata yang buat aku jengkel, jembeg, mualles bahasnya. Bukannya aku ga mau nikah, tapi memang blom saatnya aku memutuskan untuk menikah. Karena itu ga gampang. Banyak hal yang aku pikirkan sebelum memutuskan menikah.

Temenku cowo kemarin ada yang cerita, dia lagi diteken sama ceweknya buat cepet nglamar. Pas aku nanya,” berapa umur cewemu mas? Bawah 25 kan?“, temenku jawab “Iya :D “. Aku udah melakukan survey (caeeelahh :P ), ternyata wanita di bawah umur 25 yang sudah bekerja, pasti pernah mengalami siklus Quarter Life Fear. Beberapa tanda-tandanya antara lain

  1. Freak Out tiap menerima undangan pernikahan
  2. Ngiri tiap lihat wanita lain punya keberuntungan menikah cepat
  3. Pengen banget cepet dilamar, trus menikah dengan pasangannya (padahal udah jelas itu ga mungkin)
  4. Kriteria calon suaminya terlalu banya (bahkan sebagian terlalu tinggi) ga ngukur diri sendiri
  5. Cenderung buru-buru, menuruti emosi sesaat
  6. Menekan pacar dengan kata “Kapan kita nikah?”
  7. Kalo pacarnya masih cuek, dia akan berusaha membahas topik tentang pernikahan

Read the rest of this entry »



Penulis : Grete “Rita” Lainer Von Lainshem

Penerbit : Visi Media

Cetakan Pertama April 2008

ISBN : 979-1043-94-9

Buku ini berisi catatan harian seorang gadis belia (baca : ABG) dari kelas sosial menengah ke atas di Wina, Austria pada tahun 1920-an. Menceritakan bagaimana gadis belia pada rentang umur antara 11-15 tahun mengungkapkan perasaanya yang berkembang menuju ke arah kematangan. Bagaimana dia memaknai perasaan bahagia,cinta,benci, dan marah. Bagaimana dia menjalin hubungan dengan orangtua, saudara, sahabat hingga bagaimana ia menjalin hubungan dengan lawan jenis menjadi hubungan yang serius. Selain itu juga kebingungan menghadapi masalah seks dan rahasia kehidupan yang terbuka seiiring dengan berjalannya waktu.

Grete Lainer von Lainshem a.k.a Rita menceritakan kisah saat mulai menginjak remaja. Dia memiliki kakak laki-laki bernama Oscar dan kakak perempuan bernama Dora. Ayahnya seorang Hakim di wilayahnya dan Ibunya seorang ibu rumah tangga yang baik. Di sekolah dia bersahabat dengan Helene atau biasa dipanggil Hella.Saat usianya belum genap 15 tahun dia harus kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang tidak bersamaan. Rita dan saudaranya harus tegar menghadapi kenyataan hidup yang tidak seindah impiannya.

Kisahnya menarik dan sederhana, karena pasti kita pernah mengalami hal-hal yang dialami oleh Rita. Masa remaja identik dengan masa pembangkangan, pencarian jati diri, pembuktian ke orang-orang di lingkungannya tentang pemikiran-pemikirannya yang kadang bertentangan dengan adat yang sudah ada. Yang (kadang-kadang) dianggap sok dewasa oleh orang yang lebih dewasa yang ada disekitarnya. Dengan membaca buku ini kita flash back dengan masa lalu kita saat menginjak remaja. Ada beberapa perbedaan, karena kita hidup di jaman yang berbeda dengan Rita. Intinya, permasalahan saat mulai menginjak remaja hampir sama. Buku ini membuat kita memahami perilaku adik atau anak kita saat mulai remaja. Sehingga kita mampu memahami apa yang menjadi keinginannya. Sayang catatan harian ini tidak lengkap sampai dia dewasa. Semoga buku ini bermanfaat & Selamat Membaca :)



et cetera