.:: life, love and friendship ::.











{July 31, 2006}   Sahabat

Malam ini, hawa dingin mulai kerasa menusuk kulitku. Kurapatkan jaket ke tubuhku, melawan udara malam ini. Tak ada yang aku lakukan di kamar ini, hanya duduk, tak tau mau berbuat apa. Kosong, otakku benar-benar kosong. Termenung di depan TV yang menyajikan acara garing, membuat anganku melayang hingga kutemukan satu wajah seseorang, kamu. Entah kenapa aku resah, saat wajahmu muncul. Bukan perasaan rindu sebagai kekasih yang aku rasakan saat wajahmu melintas di anganku, karena aku bukan kekasihmu. Aku hanya sahabatmu, tidak lebih. HPku berbunyi, “ada sms masuk” gumamku. Phew, ternyata keresahanku terjawab, ada yang ingin kamu bicarakan denganku.

tet..tet..tet,
bunyi bel rumahku memecahkan lamunanku. Aku berjalan ke arah pagar, membukanya dan mempersilhkan kamu duduk di teras rumahku, seperti dulu. Kubentuk senyum tipis di wajahku, sekedar memecahkan kebekuan diantara kita. “Makin ehem aja ni orang, sayang…aku ga bisa memiliki dia”,hati kecilku berkata. Ga tau apa memang sudah dari sananya setiap ketemu kita pasti bercanda. Hilang semua ‘perasaan salah’ yang hampir
menodai persahabatan kita. Candaku berhenti saat aku melihat mendung di matamu. Seperti waktu dulu, kamu masih saja tidak bisa menyembunyikan perasaanmu, saat ada yang mengganjal di hatimu.

Ceritamu mengalir, sesaat aku ingin marah pada apa yang telah kamu lakukan. Aku
ga bisa menerima semua yang kamu lakukan dengan dia, orang yang dulu sangat kamu sayangi. tapi, aku ga bisa menyalahkan atas apapun keputusan yang terbaik buatmu. Aku melihat wajahmu masih murung. Aku tau masalahmu tidak hanya sekedar itu. Kamu merasa bersalah dengan keputusan itu. Tapi smuanya toh sudah terjadi. Kamu hanya bisa berharap kamu melakukan hal yang terbaik buat kalian berdua. Begitupun aku, berharap yang terbaik untukmu.

Aku slalu ada disisimu saat kamu terpuruk seperti ini. Aku yang selalu memberimu tawa yang sebenarnya bisa kau dapat dari orang lain yang lebih baik dari aku. Bisa kah kamu membaca isi hatiku? Rasanya itu tidak mungkin, kamu terlalu sibuk dengan “kisah cintamu” yang datang dan pergi. Aku memang sudah melepaskanmu, dari hati dan otakku sebagai orang yang aku cintai, biarlah aku menyayangimu dengan format ini.

Aku tidak pernah meminta cinta ini datang, aku juga ga bisa nolak saat kamu hadir dalam hidupku. Segalanya datang tiba-tiba, dan aku merasa jadi orang yang bodoh, mengharapmu seperti menangkap angin. Aku hanya memandangmu, bahkan saat kau terpekur dengan pikiranmu, aku menikmati saat ini. Tuhan…sadarkan aku, dia ga bisa aku miliki. Suaramu memecah kesunyian diantara kita, “aku pamit dulu ya, udah malem” katamu. Aku memandang bayanganmu yang berlalu dari hadapanku. Hatiku teriris, aku hanya bisa menangisi kebodohanku. Maafkan aku sahabat…..



Leave a Reply

et cetera