.:: life, love and friendship ::.











{March 28, 2006}   Aku dan Kamu

Malam ini udara dingin mulai menusuk tulangku. Aku merapatkan jaket
yang membungkus tubuhku. Kita duduk di teras rumahku, sibuk dengan
pikiran masing-masing. Aku melihatmu terdiam, matamu menerawang entah
apa yang kamu pikirkan. Kita masih terdiam membisu, tak ada satu pun
yang terucap memecah kebekuan. Lidah ini terlalu kelu untuk mengatakan
sebuah rangkaian kata. Aku merasa kapal yang kita tumpangi oleng oleh
badai besar yang tiba-tiba datang, beberapa detik lagi kapal ini akan
karam dan aku ga mau itu terjadi. Seandainya aku bisa memutar kembali
waktu yang kita jalani bersama, kenangan itu terlalu indah tertulis
dalam hatiku. Dadaku sesak mengingat semua tentang kita, air mata ini
mulai mendesak keluar dari pelupuk mataku.

Kamu : “Aku ga kan bisa menang selamanya. Hatimu
terlalu jauh buat aku jangkau. Lebih baik kamu lepasin aku”.

Aku : “Aku ga bisa nglepasin kamu”

Kamu : “Lalu buat apa kamu bertahan dengan aku, kalo sama sekali ga
ada cinta?”. Aku terlalu sakit untuk terus begini, tolong ngertiin
aku…”

Aku : “Aku bakalan berusaha kok, kaya’ dulu lagi…bisa mencintaimu
apa adanya, dgn segala kelebihan dan kekuranganmu”

Kamu : “Udah lah…waktumu udah habis, 3 tahun aku memberimu waktu untuk
bisa mencintaiku apa adanya. Ah…sudahlah jangan kamu buat aku tambah
sakit. Aku sudah kalah, aku bukan yang terbaik bagimu”

Aku : “Maaf…aku ga bermaksud menyakiti kamu, aku hanya ingin jujur, itu
saja. Aku sangat yakin aku sayang kamu, tapi aku ga yakin bisa mencintaimu..”

Aku menatap matamu, luka itu seperti udah ga bisa lagi kamu tutupi.
Air mataku menetes, aku ga berusah untuk menghentikannya.Biarkan saja,
aku mau kamu tau, aku juga terluka. Akan lebih sakit lagi kalo aku ga jujur
dengan hati kecilku sendiri. Ada perasaan bersalah yang selalu
menyiksaku, jika berhadapan denganmu. Kamu terlalu baik untukku,
sedangkan aku ga pernah bisa membuatmu bahagia.

Kamu menyalakan sebatang rokok. “Lebih baik kalo kamu melepaskan aku, kita ga akan bisa seperti ini terus” katamu. Aku mencoba menahan sesak di dadaku, phew..harder to breath. Aku mengambil nafas dalam-dalam. “Aku minta maaf sekali lagi…” kataku. “Aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf” katamu sambil mematikan puntung rokokmu.

Kamu memegang tanganku, berusaha menatap mataku yang basah oleh air
mata. Aku ga sanggup memandangmu. Tak akan pernah sanggup memandang
orang yang aku sayangi benar-benar terluka, dan masih saja menyayangiku. Kamu
menghapus air mataku yang jatuh di pipiku. “Udah ya…jangan nangis
lagi
” katamu sambil membentuk senyum yang dipaksakan. Aku memelukmu,
kutenggelamkan kepalaku di pundakmu seolah aku ingin menyembunyikan
semua rasa bersalahku di balik dadamu yang selalu jadi
tempat bersandarmu saat rapuh seperti ini.

Aku pulang dulu ya…” suaramu tiba-tiba memecah kesunyian
diantara kita. Aku melepaskan pelukanku. Kamu masih berusaha
menggandeng tanganku saat berjalan keluar dari rumahku. “Jangan pergi…” kataku mencoba mencegah kepergianmu. “Sekarang kita lebih baik jalan sendiri-sendiri dulu, ntar kalo dah sama-sama tau apa maunya, baru kita ketemuan, Ok” kamu mencoba menenangkanku. “Aku mau kamu yakin dengan perasaanmu dulu” lanjutmu.

Kamu mulai menyalakan motormu, suara deru mesin motormu memecah
keheningan malam ini. Aku memandangmu menghilang di tikungan jalan itu.
Aku hanya bisa diam, ga tau harus berbuat apa. Saat kamu pergi…yang ada hanyalah rasa kosong. Aku belum benar-benar yakin
ini cinta atau sekedar rasa egoisku yang ga rela kalo kamu
meninggalkanku dan suatu saat bersama orang lain. Entahlah…sampai
kapan aku bisa yakin dengan perasaanku terhadapmu. Yang aku tau, aku
sangat menyayangimu…tapi itu belum cukup bagimu. Aku mau hidup denganmu…membangun mimpi indah bersamamu, selamanya,hati
kecilku berkata. Ah..sudahlah biarkan perasaan ini mengalir apa adanya,
suatu saat juga akan kutemukan muaranya, dan aku yakin mampu
mencintaimu dengan tulus saat itu.

/*–Buat seseorang yang sangat aku sayangi…LuV u BeiB–*/



Di says:

aw…aw

dalem bo



Leave a Reply

et cetera